Rabu, 10 September 2008

Airmata Rasulullah

Airmata Rasulullah

Detik-detik Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam
menghadapi sakaratul maut;
ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar
cinta yang dicontohkan Allah
melalui kehidupan Rasul-Nya.
Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning,
burung-burung gurun enggan
mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara
terbatas memberikan kutbah.
"Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah
dan cinta kasih-Nya. Maka
taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua
perkara pada kalian, Al Qur'an
dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, berarti
mencintai aku dan kelak
orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga
bersama-sama aku."
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata
Rasulullah yang tenang dan
penuh minat menatap sahabatnya satu persatu.
Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar
dadanya naik turun menahan
nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan
Ali menundukkan kepalanya
dalam-dalam.
Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.
"Rasulullah akan meninggalkan kita semua,"keluh hati
semua sahabat kala itu.
Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan
tugasnya didunia. Tanda-tanda
itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas
menangkap Rasulullah yang
berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar.
Disaat itu, kalau mampu
seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan
detik-detik berlalu.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah
masih tertutup. Sedang
didalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan
keningnya yang berkeringat
dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas
tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang
berseru mengucapkan salam.
"Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak
mengizinkannya masuk.
"Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang
membalikkan badan dan
menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata
sudah membuka mata dan
bertanya pada Fatimah
"Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini
aku melihatnya," tutur
Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu
dengan pandangan yang
menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah
anaknya itu hendak
dikenang.
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan
sementara, dialah yang
memisahkan pertemuan di dunia. Dialah
malakulmaut,"kata Rasulullah.
Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah
menanyakan kenapa Jibril
tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah
Jibril yang sebelumnya sudah
bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih
Allah dan penghulu dunia ini.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?"
Tanya Rasululllah dengan
suara yang amat lemah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah
menanti ruhmu. Semua
syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu, " kata
Jibril. Tapi itu ternyata
tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh
kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya
Jibril lagi.
"Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah
mendengar Allah berfirman
kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali
umat Muhammad telah
berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan
tugas.Perlahan ruh
Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah
bersimbah peluh, urat-urat
lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul
maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali
yang di sampingnya menunduk
semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu
Jibril?" Tanya Rasulullah
pada Malaikat pengantar wahyu itu.
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah
direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana
sakit yang tidak
tertahankan lagi.
"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua
siksa maut ini kepadaku,
jangan pada umatku."
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah
tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu,
Ali segera mendekatkan
telinganya.
"Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku -
peliharalah shalat dan
peliharalah orang-orang lemah di antaramu"
Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan.
Sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali
mendekatkan telinganya
ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii, ummatii, ummatiii" - "Umatku, umatku,
umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi
sinaran itu.

Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim
'alaihi
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.


Wassalam,



Tidak ada komentar: